Kehamilan & Perkembangan Embrional Dan Fetal

KEHAMILAN & PERKEMBANGAN EMBRIONAL DAN FETAL LENNA MAYDIANASARI, SST SUB POKOK BAHASAN

FERTILISASI NIDASI/IMPLANTASI EMBRIOGENESIS PERTUMBUHAN PLACENTA PEMISAHAN JENIS KELAMIN KEHAMILAN GANDA/KEMBAR FERTILISASI

Pada saat kopulasi antara pria dan wanita (sanggama / coitus), dengan ejakulasi sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani berisi sel-sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita. Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut "masa subur" wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu

dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi. DEFINISI Pertemuan / penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi. Fertilisasi adalah fusi antara sperma dan ovum, biasanya terjadi pada 1/3 bagian atas dari oviduct.

Dalam keadaan normal in vivo, pembuahan terjadi di daerah tuba Falopii umumnya di daerah ampula / infundibulum Perkembangan teknologi kini memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa mempunyai anak) dengan cara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro

fertilization - IVF) - dalam istilah awam, bayi tabung. Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontraksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu menbuahi oosit. Mereka harus mengalami

kapasitasi dan reaksi akrosom. Reaksi kapasitasi : Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung glikoprotein dari proteinprotein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi

akrosom. reaksi akrosom : setelah dekat dengan oosit, sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan terpengaruh oleh zat-zat dari corona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan corona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang

dapat melarutkan corona radiata, trypsinelike agent dan lysine-zone yang dapat melarutkan dan membantu sperma melewati zona pellucida untuk mencapai ovum. Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pellucida, terjadi perlekatan yang kuat dan penembusan yang sangat cepat. Sekali telah terjadi penembusan zona oleh satu sperma, terjadi reaksi khusus di zona pellucida (zone-reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh sperma

lainnya. Dengan demikian sangat jarang sekali terjadi penembusan zona oleh lebih dari satu sperma Pada fertilisasi mencakup 3 fase: penembusan korona radiata penembusan zona pelusida fusi oosit dan membrane sel sperma Fase 1 : penembusan korona radiata Dari 200-300 juta spermatozoa yang

dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona.

Fase 2 : penembusan zona pelusida Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika

kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk

menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif tempat tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida tetapi hanya satu yang menembus oosit Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma Segera setelah spermatozoa menyentuh

membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah hilang pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertingal di permukaan oosit.

Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang berbeda : reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit.

selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan dan penetrasi sperma dengan cara ini terjadinya polispermi dapat dicegah.

melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive. Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita.

penggiatan metabolic sel telur. Factor penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awal embriogenesis. Sementara

itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Salama masa pertumbuhan, baik pronukleus wanita

maupun pria (keduanya haploid) harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak,masingmasing sel dalam zigot tahap 2 sel tersebut akan mempunyai DNA separuh dari jumlah DNA normal. Segera sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk

mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah membelah memanjang pada sentromer, dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak kearah kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak kearah kutub yang berlawanan,

muncullah satu alur yang dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2 bagian. 1. 2. 3.

Hasil utama pembuahan penggenapan kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari ibu menjadi suatu bakal individu baru dengan jumlah kromosom diploid. penentuan jenis kelamin bakal individu baru, tergantung dari kromosom X atau Y yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut. permulaan pembelahan dan stadiumstadium pembentukan dan

perkembangan embrio (embriogenesis) PEMBELAHAN / PERKEMBANGAN AWAL EMBRIO Zigot mulai menjalani pembelahan awal mitosis sampai beberapa kali. Sel-sel yang dihasilkan dari setiap pembelahan berukuran lebih kecil dari ukuran induknya, disebut blastomer. Sesudah 3-4 kali pembelahan : zigot memasuki

tingkat 16 sel, disebut stadium morula (kira-kira pada hari ke-3 sampai ke-4 pascafertilisasi). Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan selsel di sebelah dalam, yang akan tumbuh menjadi jaringan-jaringan embrio sampai janin) dan outer cell mass (lapisan sel di sebelah luar, yang akan tumbuh menjadi trofoblas sampai plasenta). Kira-kira pada hari ke-5 sampai ke-6, di rongga sela-sela inner cell mass merembes cairan menembus zona pellucida, membentuk ruang antar

sel. Ruang antar sel ini kemudian bersatu dan memenuhi sebagian besar massa zigot membentuk rongga blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul di salah satu sisi, tetap berbatasan dengan lapisan sel luar. Pada stadium ini zigot disebut berada dalam stadium blastula atau pembentukan blastokista. Inner cell mass kemudian disebut sebagai embrioblas, dan outer cell mass kemudian disebut sebagai trofoblas.

IMPLANTASI Pada akhir minggu pertama (hari ke-5 sampai ke-7) zigot mencapai cavum uteri. Pada saat itu uterus sedang berada dalam fase sekresi lendir di bawah pengaruh progesteron dari korpus luteum yang masih aktif. Sehingga lapisan endometrium dinding rahim menjadi kaya

pembuluh darah dan banyak muara kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka dan aktif. Kontak antara zigot stadium blastokista dengan dinding rahim pada keadaan tersebut akan mencetuskan berbagai reaksi seluler, sehingga sel-sel trofobas zigot tersebut dapat menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus (terjadi implantasi). Setelah implantasi, sel-sel trofoblas yang

tertanam di dalam endometrium terus berkembang , membentuk jaringan bersama dengan sistem pembuluh darah maternal untuk menjadi PLASENTA, yang kemudian berfungsi sebagai sumber nutrisi dan oksigenasi bagi jaringan embrioblas yang akan tumbuh menjadi janin.

Recently Viewed Presentations

  • On some integral estimates for solutions of SDEs

    On some integral estimates for solutions of SDEs

    The proof uses Ito's formula and Lemma 1. Application of the estimates in case 1 < α< 2: Theorem 2. Assume that Z is a symmetric stable process of index 1 < ...
  • PowerPoint-Präsentation

    PowerPoint-Präsentation

    Thoracoabdominal resection of retrocrural residual cancers. Aktuelle Urologie. Histologische Evaluation der Cochleaimplantation mittels Supramealem Zugang (SMA) Otorhinolaryngologia Nova . Cheek dimples in Greek children and adolescents. International Journal of Anthropology
  • DSP Operational Framework Digital Service Provider Webinar Presented

    DSP Operational Framework Digital Service Provider Webinar Presented

    Provide guidelines to your customers, where your customers use your services to collect and store data about other individuals (eg clients of tax practitioners, employees, etc.), on where and how their data is being managed
  • Department of Human Resources GNWT HR Systems PeopleSoft

    Department of Human Resources GNWT HR Systems PeopleSoft

    GNWT HR Systems PeopleSoft HRIS Upgrade November 2010 Contents Introduction Why should the GNWT Upgrade? Potential Risks of not Upgrading New Functionality in 9.1 Project High Level Plan and Scope Introduction The HR Systems team is planning to conduct an...
  • Surpluses in the hydrological cycle Today we are

    Surpluses in the hydrological cycle Today we are

    Also known as the flood recurrence interval. Estimate of the likelihood of a flood of a certain size recurring. A flood likely to happen once in ten years has a 10% chance of happening in any one year. However…. This...
  • Bezpenj a innj provoz jeb - novch i

    Bezpenj a innj provoz jeb - novch i

    Bezpečnější a účinnější provoz jeřábů - nových i rekonstruovaných Usnadníme provoz vašeho jeřábu Optimalizujte provoz vašeho jeřábu Ochrana a bezpečnost Produktivita Rentabilita Spolehlivost Bezpečný provoz - plná kontrola nad výkonem Předvídatelný servis - delší životnost Hlídač zatížení detekuje přetížení v...
  • Section Views - UTRGV

    Section Views - UTRGV

    Section Views In this tent you will learn a basic understanding on how full section views and offset section views work. Full section views A full section view is made by passing an imaginary cutting plane completely through an object...
  • Mr.Hills Fourth Grade Class

    Mr.Hills Fourth Grade Class

    Think About This….. A workshop has its root in learning from the dawn of human existence: Once one caveman learned to make fire, he . showed. the next caveman